Provinsi Riau sering menghadapi masalah tahunan yang serius: bencana asap akibat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Problematika ini secara langsung dan signifikan menghantam sektor pendidikan, terutama bagi sekolah yang berada di daerah rawan. Ketika Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) mencapai tingkat berbahaya, aktivitas belajar-mengajar terpaksa dihentikan, menyebabkan kerugian akademik yang berulang dan ketidakpastian yang mempengaruhi psikologi siswa dan guru.
Problematika sekolah di daerah rawan bencana asap meliputi beberapa aspek. Pertama, kerugian waktu belajar. Penutupan sekolah yang bisa berlangsung berminggu-minggu membuat kurikulum terhambat, terutama bagi siswa yang akan menghadapi ujian nasional. Kedua, dampak kesehatan. Anak-anak sangat rentan terhadap penyakit pernapasan yang dipicu oleh asap, meningkatkan angka ketidakhadiran dan membebani fasilitas kesehatan. Ketiga, kesenjangan akses. Upaya pengalihan ke pembelajaran daring (online) tidak efektif di daerah rawan yang seringkali memiliki keterbatasan akses internet dan perangkat digital.
Untuk mengatasi problematika ini, solusi alternatif yang adaptif dan berkelanjutan harus diterapkan oleh Pemerintah Daerah Riau. Solusi pertama adalah memperkuat infrastruktur sekolah. Sekolah di daerah rawan harus diprioritaskan untuk memiliki ruang kelas yang kedap udara dan dilengkapi dengan pemurni udara (air purifier) berkapasitas tinggi. Ini memungkinkan sekolah tetap buka dan kegiatan belajar mengajar berlangsung dengan aman, meskipun kualitas udara di luar sedang buruk.
Solusi alternatif kedua adalah pengembangan kurikulum darurat dan sistem pembelajaran hybrid yang efektif. Riau perlu menyiapkan materi pelajaran yang ringkas dan self-study untuk mengimbangi waktu yang hilang. Bagi siswa yang tidak memiliki akses internet, guru harus dilatih untuk mengirimkan materi melalui media komunikasi yang lebih tradisional atau bahkan melalui kunjungan rumah terbatas, dengan protokol kesehatan yang ketat. Ini memerlukan inovasi pedagogi yang tidak bergantung pada kehadiran fisik di sekolah.
Selain itu, program kesehatan mental dan fisik harus diintegrasikan ke dalam kurikulum darurat. Siswa dan guru yang tinggal di daerah rawan bencana asap mengalami stres dan kecemasan yang tinggi. Sekolah harus menjadi pusat informasi tentang perlindungan diri dari asap, termasuk distribusi masker N95 dan pemahaman tentang gejala gangguan pernapasan. Problematika asap ini adalah masalah lingkungan yang berdampak pada sosial, sehingga solusi harus bersifat holistik.
Pada akhirnya, solusi paling mendasar adalah mitigasi dan pencegahan Karhutla itu sendiri. Namun, selama ancaman bencana asap masih ada, Riau harus memastikan bahwa hak pendidikan anak-anak di daerah rawan tetap terjamin melalui solusi alternatif yang kreatif, tangguh, dan didukung oleh alokasi anggaran yang memadai.