Provinsi Riau, dengan perkebunan nanas yang luas, memiliki potensi besar untuk mengolah limbah daun nanas menjadi material bangunan inovatif yang ramah lingkungan. Pertanyaan penting yang perlu dijawab adalah seberapa kuat material komposit serat nanas yang dikembangkan untuk elemen arsitektur lokal, apakah mampu bersaing dengan material konvensional dari segi kekuatan dan ketahanan. Penelitian terbaru yang dipublikasikan oleh Suara Riau menunjukkan bahwa komposit yang terbuat dari serat nanas dengan matriks polimer resin epoksi memiliki kekuatan tarik hingga 150-200 MPa, setara dengan kayu keras kelas I, dan ketahanan terhadap korosi serta serangan jamur yang jauh lebih baik di iklim tropis lembab. Melalui inovasi material komposit serat nanas, terungkap bahwa material ini ringan (densitas 1,2-1,4 g/cm³), mudah dibentuk, dan memiliki isolasi termal yang baik, menjadikannya ideal untuk panel dinding, plafon, dan elemen dekoratif.
Proses pembuatan komposit dimulai dengan ekstraksi serat dari daun nanas melalui metode retting atau pengupasan mekanis, dilanjutkan dengan perlakuan alkalisasi untuk meningkatkan ikatan antara serat dan matriks. Serat kemudian dicampur dengan resin dan dicetak menjadi lembaran atau profil yang diinginkan. Penelitian ini mengukur kekuatan serat nanas dengan melakukan uji tarik, tekan, dan impak pada 5 variasi komposisi serat-resin, serta membandingkannya dengan papan kayu dan komposit serat kaca. Hasilnya menunjukkan bahwa komposit dengan komposisi serat 40-50% mencapai keseimbangan terbaik antara kekuatan dan kelenturan, serta menunjukkan ketahanan yang baik terhadap paparan sinar UV dan kelembaban setelah diberikan lapisan pelindung.
Salah satu temuan penting adalah bahwa serat nanas memberikan tekstur dan estetika alami yang khas, memberikan nilai arsitektur tinggi yang mencerminkan identitas lokal. Selain itu, material ini bersifat dapat didaur ulang dan memiliki jejak karbon yang jauh lebih rendah dibandingkan material sintetis. Hal ini menunjukkan bahwa arsitektur lokal Riau dapat dikembangkan dengan mengandalkan kekayaan hayati untuk menciptakan bangunan yang modern, kuat, dan berkelanjutan. Temuan ini mendorong Suara Riau untuk mempromosikan kolaborasi antara peneliti, perajin lokal, dan pelaku konstruksi dalam mengembangkan rantai pasok komposit serat nanas, serta mengedukasi masyarakat tentang keunggulan material ini.
Lebih jauh, penelitian ini juga menyoroti potensi ekonomi yang besar bagi petani nanas, karena limbah daun yang selama ini terbuang kini memiliki nilai tambah yang signifikan. Dengan memahami material bangunan berkelanjutan, Riau dapat menjadi pionir dalam penggunaan material komposit alami di Indonesia, mengurangi ketergantungan pada impor material bangunan, dan menciptakan solusi arsitektur yang selaras dengan prinsip ramah lingkungan.