Saat bencana melanda, krisis komunikasi bencana adalah ancaman sekunder yang sering diabaikan. Di Riau, para relawan kini menyuarakan keluhan serius mengenai kondisi ini. Suara Relawan di lapangan menegaskan bahwa jaringan telekomunikasi yang lumpuh telah menghambat upaya pertolongan dan asesmen kebutuhan yang efektif.
Keterbatasan akses komunikasi, terutama setelah insiden besar, membuat koordinasi tim penyelamat menjadi sangat sulit. Informasi mengenai lokasi korban, kebutuhan mendesak, dan ketersediaan jalur evakuasi tidak dapat disalurkan dengan cepat. Riau memerlukan infrastruktur telekomunikasi yang tangguh di wilayah rawan bencana.
Krisis ini tidak hanya menghambat kerja relawan, tetapi juga memperparah kondisi psikologis korban yang terisolasi. Ketidakmampuan untuk menghubungi keluarga atau meminta bantuan menciptakan kepanikan yang tidak perlu. Komunikasi bencana harus menjadi prioritas utama dalam fase tanggap darurat.
Keluhan relawan mencakup rusaknya menara BTS dan terputusnya pasokan listrik yang mengganggu backbone jaringan. Mereka mendesak penyedia layanan telekomunikasi dan pemerintah untuk menyediakan solusi darurat. Pemanfaatan teknologi satelit portabel dan drone komunikasi dapat menjadi solusi cepat untuk memulihkan jaringan di area terpencil.
Lumpuhnya telekomunikasi berarti informasi vital dari pusat komando tidak sampai ke tim di garis depan. Hal ini dapat menyebabkan duplikasi upaya atau, lebih buruk, terlewatnya korban yang masih bisa diselamatkan. Setiap jam yang hilang akibat krisis komunikasi bencana dapat berarti hilangnya nyawa.
Suara yang disampaikan ini adalah panggilan darurat bagi semua stakeholder terkait. Harus ada Standard Operating Procedure (SOP) yang jelas untuk memprioritaskan pemulihan jaringan telekomunikasi pasca-bencana. Sektor ini harus diperlakukan sebagai infrastruktur kritis dalam konteks kebencanaan.
Relawan di Riau juga membutuhkan dukungan peralatan komunikasi alternatif, seperti radio HT (Handy Talky) atau radio link yang lebih tahan banting. Ketergantungan penuh pada jaringan seluler terbukti sangat rapuh ketika terjadi bencana alam skala besar yang melumpuhkan berbagai infrastruktur.
Telekomunikasi yang pulih adalah kunci untuk memastikan proses assessment dan distribusi bantuan berjalan efisien. Dengan informasi yang akurat, bantuan yang dikirimkan dapat tepat sasaran sesuai dengan kebutuhan riil di lapangan. Pemulihan komunikasi adalah tahap awal pemulihan sosial.
Intinya, krisis komunikasi di Riau adalah pelajaran mahal. Pemerintah dan penyedia jasa harus berinvestasi pada sistem yang lebih kuat agar relawan dapat bekerja maksimal saat krisis.