Misteri Putri Tujuh: Menguak Asal-usul Nama Kota Dumai yang Penuh Cerita Kerajaan

Kota Dumai, sebuah kota di Provinsi Riau, menyimpan kisah legendaris yang menjadi asal-usul namanya. Kisah ini berpusat pada sebuah cerita rakyat yang dikenal sebagai Misteri Putri Tujuh. Cerita ini tak hanya populer, tetapi juga menjadi bagian penting dari identitas kota.

Menurut legenda, pada zaman dahulu kala, hiduplah seorang ratu bernama Mayang Sari dengan ketujuh putrinya yang sangat cantik. Kecantikan mereka terkenal hingga ke seluruh penjuru negeri. Ketujuh putri ini tinggal di sebuah kerajaan yang makmur dan damai.

Kecantikan putri bungsu, Mayang Mengurai, menarik perhatian seorang pangeran dari Kerajaan Aceh. Pangeran itu datang untuk meminang, namun Mayang Sari menolak karena belum ingin menikahkan putrinya. Penolakan ini membuat pangeran marah.

Pangeran Aceh tidak menyerah. Ia memutuskan untuk menyerang kerajaan Mayang Sari. Untuk melindungi putrinya dari serangan, Mayang Sari menyembunyikan mereka ke dalam sebuah hutan lebat. Di sana, mereka tersembunyi dengan aman.

Namun, keberadaan para putri tercium oleh pasukan Aceh. Mereka berhasil menemukan tempat persembunyian ketujuh putri. Dalam upaya untuk menghindari penangkapan, mereka bersembunyi di sebuah danau.

Saat pasukan Aceh tiba, danau itu tiba-tiba berubah menjadi air bah yang menenggelamkan mereka. Namun, tujuh putri itu juga menghilang secara misterius di danau tersebut. Cerita inilah yang menjadi kunci asal-usul Dumai.

Masyarakat percaya, nama “Dumai” berasal dari kata “d’umai,” yang artinya “di sana,” merujuk pada tempat hilangnya ketujuh putri. Versi lain mengatakan nama itu berasal dari kata “damai,” yang mencerminkan harapan akan perdamaian setelah perang.

Kisah Misteri Putri Tujuh ini memiliki pesan moral yang kuat. Ia mengajarkan tentang pengorbanan dan perlindungan keluarga dari ancaman luar. Para putri yang menghilang adalah simbol dari pengorbanan demi keselamatan rakyat.

Popularitas legenda ini juga didukung oleh keberadaannya dalam budaya lokal. Kisah ini sering diceritakan kembali dalam berbagai bentuk seni, seperti teater, tarian, dan lagu-lagu tradisional, menjaganya tetap hidup.