Salah satu alasan utama mengapa Kebun Sagu Riau dianggap lebih menggiurkan adalah biaya perawatan yang relatif lebih rendah dibandingkan kelapa sawit. Pohon sagu tumbuh secara alami di lahan basah tanpa memerlukan sistem drainase besar-besaran yang seringkali merusak struktur gambut dan memicu kebakaran hutan. Hal ini menjadikan investasi pada komoditas ini lebih aman dari risiko regulasi lingkungan yang kian ketat di pasar internasional. Selain itu, produktivitas sagu per hektar dalam menghasilkan karbohidrat jauh melampaui tanaman pangan lainnya, menjadikannya kunci utama dalam menjaga ketahanan pangan global di masa depan.
Dari sisi pasar, permintaan terhadap turunan produk sagu terus meningkat pesat, terutama di industri makanan sehat dan bahan baku bioetanol. Sagu dikenal sebagai bahan pangan bebas gluten yang kini menjadi tren gaya hidup di negara-negara maju. Inilah yang membuat Investasi di sektor ini memiliki prospek keuntungan yang sangat stabil dalam jangka panjang. Riau, dengan kearifan lokal masyarakatnya dalam mengolah sagu sejak zaman dahulu, memiliki keunggulan kompetitif untuk menjadi pusat pengolahan sagu terbesar di Asia Tenggara, didukung oleh infrastruktur pelabuhan yang memadai untuk ekspor.
Jika dibandingkan dengan Sawit, Kebun Sagu Riau memiliki masa hidup produktif yang sangat lama dan tidak memerlukan replanting (penanaman kembali) yang sering. Sekali ditanam, rumpun sagu akan terus berproduksi melalui tunas-tunas baru yang muncul secara alami. Hal ini memberikan keuntungan berkelanjutan bagi para petani dan pemilik modal karena arus kas yang dihasilkan menjadi lebih konsisten. Pergeseran minat ini juga didorong oleh kesadaran bahwa diversifikasi komoditas sangat diperlukan agar ekonomi daerah tidak lumpuh ketika harga minyak sawit mentah (CPO) dunia mengalami fluktuasi yang tajam.
Pemerintah daerah di Provinsi Riau juga mulai memberikan berbagai kemudahan perizinan bagi perusahaan yang fokus pada pengembangan komoditas non-sawit ini. Dukungan riset dan pengembangan varietas unggul sagu terus ditingkatkan agar masa panen bisa lebih dipercepat dengan kualitas pati yang lebih banyak. Selain memberikan keuntungan finansial, pengembangan kebun sagu juga berfungsi sebagai upaya restorasi lingkungan, karena pohon sagu mampu menjaga kelembaban lahan gambut sehingga mencegah terjadinya bencana kabut asap yang sering melanda wilayah ini setiap musim kemarau.