Provinsi Riau seringkali harus menghadapi musim kelam ketika langit yang membiru berubah menjadi kuning pekat akibat kabut asap sisa kebakaran hutan dan lahan. Di tengah kepungan partikel berbahaya tersebut, terdapat narasi perjuangan yang sangat menyentuh dari para orang tua, terutama kaum ibu, yang harus bertaruh nyawa demi keselamatan buah hati mereka. Ibu di Riau tidak hanya harus memikirkan kebutuhan pangan, tetapi juga harus berjibaku menciptakan ruang aman di dalam rumah agar udara beracun tidak masuk ke paru-paru anak mereka yang masih sangat rapuh. Kabut asap bukan sekadar gangguan penglihatan, melainkan ancaman pembunuh senyap yang mengintai masa depan generasi muda di bumi Lancang Kuning.
Kisah perjuangan ini seringkali dimulai di dalam kamar yang tertutup rapat dengan kain basah yang ditempelkan di celah-celah pintu dan jendela. Bagi seorang ibu yang memiliki bayi, setiap embusan napas anaknya yang terdengar sesak adalah sumber ketakutan yang luar biasa. Bahaya Polusi udara di Riau, yang seringkali mencapai level berbahaya atau “hazardous” pada indeks kualitas udara, memiliki dampak jangka panjang terhadap perkembangan kognitif dan fisik anak-anak. Banyak ibu yang terpaksa mengungsikan anak mereka ke daerah lain yang lebih aman, namun bagi mereka yang berasal dari keluarga ekonomi lemah, bertahan di tengah asap adalah satu-satunya pilihan yang tersedia, meskipun itu berarti mendekati risiko kematian.
Air mata yang tumpah bukan hanya karena perihnya mata akibat terpapar asap, melainkan karena rasa putus asa melihat kondisi lingkungan yang terus berulang setiap tahun. Ibu-ibu ini harus ekstra waspada memantau suhu tubuh bayi mereka dan frekuensi batuk yang muncul. Kunjungan ke rumah sakit atau puskesmas menjadi agenda rutin yang melelahkan, sementara fasilitas kesehatan seringkali penuh sesak oleh pasien dengan keluhan serupa. Fenomena Asap ini menciptakan trauma kolektif bagi para perempuan di Riau. Mereka merasa hak dasar anak-anak mereka untuk menghirup udara bersih telah dirampas oleh ketidaktegasan hukum terhadap para pembakar hutan dan korporasi yang abai terhadap kelestarian lingkungan.
Di balik perjuangan individu tersebut, muncul gerakan-gerakan sosial yang digerakkan oleh para Ibu di Riau untuk menuntut keadilan iklim. Mereka mulai menyuarakan kegelisahan mereka melalui berbagai platform, meminta pemerintah untuk lebih serius dalam melakukan pencegahan karhutla sejak dini. Kisah mereka adalah bukti bahwa dampak kerusakan lingkungan selalu memukul kelompok yang paling rentan terlebih dahulu. Melindungi bayi dari polusi bukan hanya tentang menyediakan masker atau pemurni udara (air purifier) yang mahal, melainkan tentang bagaimana menjaga ekosistem hutan agar tetap basah dan tidak mudah terbakar. Tanpa ada tindakan preventif yang nyata di hulu, maka setiap musim kemarau akan tetap menjadi musim air mata bagi warga Riau.